Universitas Gunadarma

Saat ini, saya berkuliah di Universitas Gunadarma Depok jurusan Sistem Informasi.

KRL Access

Review Aplikasi KRL Access

Postingan Populer

Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Januari 2020

Area Pengendalian pada TI

Pengendalian TI didefinisikan sebagai suatu pernyataan hasil yang diinginkan atau maksud yang dicapai oleh prosedur pengendalian implementasi dalam kegiatan TI khusus. Dan dalam pengendalian TI, terdapat 15 (lima belas) area pengendalian. Area pengendalian dan penjelasannya tertulis di bawah ini:

Area pengendalian ada 15 yaitu:
1. Integritas Sistem
2. Manajemen Sumber Daya (Perencanaan Kapasitas)
3. Pengendalian Perubahan S/W Aplikasi dan S/W sistem
4. Backup dan Recovery
5. Contigency Planning
6. System S/W Support
7. Dokumentasi
8. Pelatihan atau Training
9. Administrasi
10.Pengendalian Lingkungan dan Keamanan Fisik
11.Operasi
12.Telekomunikasi
13.Program Libraries
14.Application Support (SDLC)
15.Pengendalian Mikrokomputer

1. Integritas Sistem
    a. Ketersediaan dan kesinambungan sistem komputer untuk user
    b. Kelengkapan, Keakuratan, Otorisasi, serta proses yg auditable
    c. Persetujuan dari user atas kinerja sistem yang di inginkan
    d. Preventive maintenance agreements untuk seluruh perlengkapan
    e. Kesesuaian kinerja antara S/W dan jaringan dengan yang diharapkan
    f. Serta adanya program yang disusun untuk operasi secara menyeluruh

    2. Manajemen Sumber Daya
    a. Faktor-faktor yang melengkapi integritas sistem
    b. Yaitu meyakini kelangsungan (ongoing) H/W, S/W, SO, S/W aplikasi, dan komunikasi
    jaringan komputer, telah di pantau dan dikelola pada kinerja yang maksimal namun
    tetap dengan biaya yang wajar.
    c. Hal-hal tersebut di dokumentasikan secara formal, demi proses yang
    berkesinambungan

    3. Pengendalian Perubahan S/W Aplikasi dan S/W sistem
    a. Menentukan adanya keterlibatan dan persetujuan user dalam hal adanya perubahan
    terhadap s/w aplikasi dan s/w sistem
    b. Setiap pengembangan dan perbaikan aplikasi harus melalui proses formal dan di
    dokumentasikan serta telah melalui tahapan-tahapan pengembangan sistem yang
    dibakukan dan disetujui.

    4. Backup dan Recovery
    a. Demi kelangsungan usaha, harus tersedia data processing disaster recovery planning
    (rencana pemulihan data dan pusat sistem informasi apabila terjadi kehancuran),
    b. Baik berupa backup dan pemulihan normal, maupun rencana contingency untuk
    kerusakan pusat SI (lokasi gedung, peralatanya, SDM-nya maupun manualnya).

    5. Contigency Planning
    a. Perencanaan yang komprehenshif di dalam mengantisipasi terjadinya ancaman
    b. terhadap fasilitas pemrosesan SI
    c. Dimana sebagian besar komponen utama dari disaster recovery plan telah
    dirumuskan dengan jelas, telah di koordinasikan dan disetujui, seperti critical
    application systems, identifikasi peralatan dan fasilitas penunjang H/W, sistem S/W
    dan sebagainya.

    6. System S/W Support
    a. Pengukuran pengendalian dalam pengembangan, penggunaan, dan pemeliharaan
    dari S/W SO, biasanya lebih canggih dan lebih cepat perputarannya dibandingkan
    dengan S/W aplikasiDengan ketergantungan yang lebih besar kepada staf teknik
    untuk integritas fungsionalnya
    b. Pengukuran kendali pengamanan aplikasi individu maupun pengamanan logika
    sistem secara menyeluruh (systemwide logical security)

    7. Dokumentasi
    a. Integritas dan ketersediaan dokumen operasi, pengembangan aplikasi, user dan S/W
    sistem
    b. Diantaranya dokumentasi program dan sistem, buku pedoman operasi dan schedule
    operasi,
    c. Untuk setiap aplikasi sebaiknya tersedia dokumentasi untuk tiap jenjang user.

    8. Pelatihan atau Training
    a. Adanya penjenjagan berdasarkan kemampuan untuk seluruh lapisan manajemen dan
    staf, dalam hal penguasaannya atas aplikasi-aplikasi dan kemampuan teknisnya
    b. Serta rencana pelatihan yang berkesinambungan

    9. Administrasi
    a. Struktur organisasi dan bagannya, rencana strategis, tanggungjawab fungsional, job
    description, sejalan dengan metoda job accounting dan/atau charge out yang
    digunakan
    b. Termasuk didalamnya pengukuran atas proses pengadaan dan persetujuan untuk
    semua sumber daya SI.

    10. Pengendalian Lingkungan dan Keamanan Fisik
    a. Listrik, peyejuk udara, penerang ruangan, pengaturan kelembaban, serta kendali
    akses ke sumber daya informasi
    b. Pencegahan kebakaran, ketersediaan sumber listrik cadangan,
    c. Juga pengendalian dan backup sarana telekomunikasi

    11. Operasi
    a. Diprogram untuk merespon permintaan/keperluan SO
    b. Review atas kelompok SO berdasarkan job schedulling, review yang terus-menerus
    terhadap operator, retensi terhadap console log message, dokumentasi untuk
    run/restore/backup atas seluruh aplikasi
    c. Daftar personel, dan nomor telepon yang harus dihubungi jika muncul masalah SO,
    penerapan sistem sift dan rotasi serta pengambilan cuti untuk setiap operator.

    12. Telekomunikasi
    a. Review terhadap logical and physical access controls,
    b. Metodologi pengacakan (encryption) terhadap aplikasi electronic data interchange
    (EDI)
    c. Adanya supervisi yang berkesinambungan terhadap jaringan komputer dan
    komitmen untuk ketersediaan jaringan tersebut dan juga redundansi saluran
    telekomunikasi.

    13. Program Libraries
    a. Terdapat pemisahan dan prosedur pengendalian formal untuk application source
    code dan compiled production program code dengan yang disimpan di application
    test libraries development
    b. Terdapat review atas prosedur quality assurance.

    14. Application Support
    a. Bahwa proses tetap dapat berlangsung walaupun terjadi kegagalan sistem
    b. Sejalan dengan kesinambungan proses untuk inisiasi sistem baru, manajemen
    c. proyek, proses pengujian yang menyeluruh antara user dan staf SI
    d. Adanya review baik formal maupun informal terhadap tingkat kepuasan atas SDLC
    yang digunakan.

    15. Microcomputer Controls
    a. Pembatasan yang ketat dalam pengadaan, pengembangan aplikasi, dokumentasi atas
    aplikasi produksi maupun aplikasi dengan misi yang kritis, sekuriti logika, dan fisik
    terhadap microcomputer yang dimiliki,
    b. Serta pembuatan daftar inventaris atas H/W, S/W, serta legalitas dari S/W untuk
    menghindari tuntutan pelanggaran hak cipta.

    Konsep Pencapaian Tujuan pada Pengendalian Internal

    Berdasarkan perkembangan di bidang manajemen sumber daya manusia tersebut, konsep pengendalian internal juga mengalami perubahan dari konsep ketersediaan pengendalian internal beralih ke konsep proses pencapaian tujuan.

    Dengan konsep baru tersebut disadari bahwa intelektualitas tidak lagi terletak pada pucuk pimpinan, tetapi terletak di lapisan bawah. Mereka yg dekat dengan konsumen lah yg paling mengerti dengan kebutuhan pasar. Pengorganisasian yang paling tepat untuk kondisi seperti ini adalah seperti pengorganisasian orkes simponi.

    Organisasi ini sepenuhnya akan digerakan oleh dinamika para pekerja (ujung tombak) sesuai spesialisasi masing-masing. Untuk menjaga kekompakan agar terjadi irama yg serasi dibutuhkan seorang manajer yang berfungsi sebagai konduktor. Manajer tersebut tidak lagi harus memiliki pengetahuan teknis seperti yg dimiliki pemain orkesnya, tetapi yang diperlukan hanya seorang yang mampu mengatur tempo dan menguasai tingkatan nada.

    Singkatnya adalah, jadi dengan berubahnya pengendalian internal dari konsep ketersediaan pengendalian ke konsep proses pencapaian tujuan, inti utamanya adalah sang manajer tersebut tidak perlu memiliki kemampuan teknis, dan karena mereka yang dekat dengan konsumen adalah mereka yang mengerti dengan kebutuhan pasar, jadi lapisan bawahlah yang mengendalikan perusahaan dan juga mengerti kebutuhan pasar.

    Kamis, 14 November 2019

    Pengertian Audit Sistem Informasi

    Pengertian Audit Sistem Informasi

    Audit Sistem Informasi (Information System Audit) atau EDP Audit (Electronic Data Processing Audit) atau computer audit  adalah proses pengumpulan data dan pengevaluasian bukti-bukti untuk menentukan apakah suatu sistem aplikasi komputerisasi telah menetapkan dan menerapkan sistem pengendalian internal yang memadai, semua aktiva dilindungi dengan baik atau disalahgunakan serta terjaminnya integritas data, keandalan serta efektifitas dan efesiensi penyelenggaraan sistem informasi berbasis komputer (Ron Weber 1999:10).

    Tujuan Audit Sistem Informasi
    Tujuan audit sistem informasi menurut Ron Weber (1999:11-13) secara garis besar terbagi menjadi empat tahap, yaitu:

    a. Pengamanan Aset
    Aset informasi suatu perusahaan seperti perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), sumber daya manusia, file data harus dijaga oleh suatu sistem pengendalian intern yang baik agar tidak terjadi penyalahgunaan aset perusahaan. Dengan demikian sistem pengamanan aset merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus dipenuhi oleh perusahaan.

    b. Menjaga integritas data
    Integritas data (data integrity) adalah salah satu konsep dasar sistem inforamasi. Data memeiliki atribut-atribut tertentu seperti: kelengkapan, keberanaran, dan keakuratan. Jika integritas data tidak terpalihara, maka suatu perusahaan tidak akan lagi memilki hasil atau laporan yang beanr bahkan perusahaan dapat menderita kerugian.

    c. Efektifitas Sistem
    Efektifitas sistem informasi perusahaan melikiki peranan pentigndalam proses pemgambilan keputusan. Suatu sistem informasi dapat dikatakan efektif bila sistem informasi tersebut telah sesuai dengan kebutuhan user.

    d. Efisiensi Sistem
    Efisiensi menjadi hal yang sangat penting ketika suatu komputer tidak lagi memilki kapasitas yang memadai atau harus mengevaluasi apakah efisiensi sistem masih memadai atau harus menambah sumber daya, karena suatu sistem dapat dikatakan efisien jika sistem informasi dapat memenuhi kebutuhan user dengan sumber daya informasi yang minimal.

    e. Ekonomis
    Ekonomis mencerminkan kalkulasi untuk rugi ekonomi (cost/benefit) yang lebih bersifat kuantifikasi nilai moneter (uang). Efisiensi berarti sumber daya minimum untuk mencapai hasil maksimal. Sedangkan ekonomis lebih bersifat pertimbangan ekonomi.

    sumber:
    https://www.kajianpustaka.com/2014/02/audit-sistem-informasi.html

    Tiga aspek kata kunci pada kontrol sistem beserta langkah perencanaan audit

    Tiga aspek kata kunci pada kontrol sistem

    Pengendalian/kontrol (control) adalah sebuah sistem yang digunakan untuk mencegah (prevents), mendeteksi (detects), atau mengkoreksi kebenaran (keabsahan) suatu peristiwa / kegiatan sesuai dengan aturan / hukum.

    Tiga aspek kata kunci pada kontrol sistem yaitu:

    1. Pengendalian sebuah sistem
    Dengan kata lain, terdiri dari sekumpulan komponen yang saling berelasi yang berfungsi secara bersama-sama untuk menyelesaikan suatu maksud atau tujuan.

    2. Keabsahan / kebenaran dari suatu kegiatan
    Keabsahan kegiatan dapat muncul jika tidak ada otorisasi (unauthorized), tidak akurat (inaccurate), tidak lengkap (incomplete), redundansi (redundant), tidak efektif
    (ineffective) atau tidak efisien (inefficient) pemasukan data kedalam sistem.

    3. Pemeriksaan digunakan untuk mencegah (prevent), mendeteksi (detect), atau mengoreksi (correct) kejadian / peristiwa yang tidak sesuai dengan aturan / hukum
    (unlawful events).


    Langkah perencanaan audit:

    1. Memperoleh Pemahaman Tentang Bisnis dan Industri Klien
    Agar dapat membuat perencanaan audit secara memadai, auditor harus memiliki pengetahuan tentang bisnis kliennya agar memahami kejadian, transaksi, dan praktik yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap laporan keuangan.
    Penting bagi auditor untuk memahami aspek-aspek kunci dari siklus bisnis klien. Siklus ini dimulai ketika satu organisasi membawa tujuan dan sumberdayanya secara bersamaan. Siklus bisnis terus berjalan seperti suatu organisasi memahami kekuatan pasar dam peraturan yang mendefinisikan lingkungan kompetitif, dan membuat keputusan penting yang berkenaan dengan penyebaran sumber daya-sumber daya ke dalam proses inti untuk memperoleh konsumen serta mendistribusikan produk dan jasanya. Proses-proses inti ini harus menghasilkan profitabilitas, arus kas operasi, dan bergantung pada tujuan organisasi, pertumbuhan dan peningkatan nilai. Jasa bernilai tambah penting yang ditawarkan akuntan publik berkaitan dengan penilaian bisnis dan menjelaskan bagaimana arus kas dan pengembangan sumberdaya yang berkaitan dengan nilai organisasi.
    Entitas kemudian harus mengelola arus kasnya untuk mengembangkan sumberdaya-sumberdaya serta mempertahankan likuiditas dan solvabilitas. Pada tahap ini suatu entitas harus menentukan sumberdaya tambahan yang diperlukan, bagaimana sumber daya tersebut akan didanai, apakah entitas memerlukan tambahan modal dari luar, dan apakah entitas memiliki dana yang cukup untuk membayar kembali pinjaman. Siklus bisnis berlanjut sejalan dengan organisasi mempertimbangkan kembali tujuannya dan penyebaran sumberdaya-sumberdaya pentingnya.

    Terdapat beberapa aspek kritis dari siklus bisnis yang penting bagi auditor untuk dipahami. Hal tersebut termasuk :
    a. Manajemen, tujuan manajemen, dan sumberdaya-sumberdaya organisasi.
    b. Produk dan jasa, pasar, pelanggan, dan persaingan entitas.
    c. Proses inti dan siklus operasional entitas.
    d. Keputusan investasi dan pembiayaan entitas.

    Prosedur untuk memahami bisnis dan industri :

    a. me-review data industri
    b. me-review informasi bisnis kecil
    c. mengadakan tinjauan operasi klien
    d. mengajukan pertanyaan kepada komite audit
    e. mengajukan pertanyaan kepada manajemen
    f. me-review kertas kerja tahun lalu
    g. menentukan keberadaan pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa

    2. Melaksanakan prosedur analitik.
    Prosedur analitis (pengujian analitis) di definisikan dalam PSA 22 (SA329) sebagai evaluasi atas informasi keuangan yang di lakukan dengan mempelajari hubungan logis antara data keuangan dan non keuangan.
    Prosedur analitis digunakan dalam audit untuk tujuan berikut :
    a. Dalam tahap perencanaan audit, untuk membantu auditor dalam merencanakan sifat, waktu dan luasnya prosedur audit lainnya
    b. Dalam tahap pengujian, sebagai pengujian substantif untuk memperoleh bukti mengenai asersi tertentu yang berhubungan dengan saldo akun atau transaksi.
    c. Pada penyelesaian audit, dalam melakukan review akhir terhadap kelayakan keseluruhan laporan keuangan yang diaudit.

    Langkah-langkah yang terlibat dalam melaksanakan prosedur analitis yaitu:

    a. Mengidentifikasi perhitungan atau perbandingan yang akan dilakukan
    Jenis perhitungan dan perbandingan data yang digunakan adalah:

    - Perbandingan data absolut
    Prosedur ini membandingkan jumlah saat ini,s eperti saldo akun, dengan suatu jumlah yang diharapkan atau diprediksi.

    - Laporan keuangan ukuran umum
    Prosedur ini membandingkan presentasi dari total yang berhubungan yang direpresentasikan oleh komponen laporan keuangan dengan jumlah yang diharapkan.

    - Analisis rasio
    Sejumlah rasio yang seringkali digunakan oleh manajemen atau analisis keuangan dapat dihitung dan dibandingkan dengan nilai yang diharapkan untuk rasio tersebut. Jumlah dari hasil perhitungan dapat dianalisis secara individual atau dalam kelompok yang berhubungan seperti rasio solvabilitas, efisiensi, dan profitabilitas.

    - Analisis tren
    Analisis tren melibatkan perbandingan beberapa data bagi lebih dari dua periode akuntansi untuk mengidentifikasi perubahan penting yang mungkin tidak nyata dari perbandingan yang terbatas pada periode saat ini dan periode masa lalu

    - Hubungan informasi keuangan dengan informasi nonkeuangan
    Data nonkeuangan seperti jumlah karyawan, luas ruang penjualan, dan volume barang yang diproduksi mungkin berguna dalam memperkirakan saldo akun yang berhubungan seperti beban gaji, penjualan, dan harga pokok produksi.

    b. Mengembangkan ekspektasi
    Dasar pemikiran yang mendasari prosedur analitis dalam audit adalah hubungan antardata dapat diharapkan untuk terus berlanjut dalam ketidakberadaan kondisi yang diketahui atau sebaliknya. Selain itu, penting bagi auditor untuk mengembangkan secara independen ekspektasi sebelum melaksanakan perhitungan mengenai data klien sehingga perbandingan akhir tidak bias, dasar pemikiran ini digunakan dalam mengembangkan ekspektasi dari berbagai sumber.

    - Informasi keuangan klien untuk periode masa lalu yang daoat dibandingan memberikan pertimbangan bagi perubahan yang diketahui. Secara sederhana diasumsikan bahwa suatu saldo akun periode berjalan, persentase ukuran umum, rasio atau hubungan antara data keuangan dan data nonkeuangan harus memperkirakan jumlah periode masa lalu.

    - Hasil yang diantisipasi berdasarkan anggaran formal dan peramalan. Pendekatan ini termasuk anggaran yang disiapkan klien, dan peramalan yang disiapkan oleh auditor.

    - Hubungan antara elemen-elemen informasi keuangan dalam suatu periode. Hal ini termasuk mempertimbangkan bagaimana perubahan dalam satu aun diharapkan akan mempengaruhi akun lainnya.

    - Data industri. Persentase ukuran umum, rasio, dan data tren perusahaan dalam suatu industri tersedia untuk tujuan perbandingan dari sumber-sumber.

    c. Melaksanakan perhitungan atau perbandingan.
    Langkah ini termasuk mengakumulasi data yang akan digunakan dalam menghitung jumlah absolut dan persentase perbedaan antara jumlah saat ini dan tahun lal, menghitung data ukuran umum serta data rasio, dan lain sebagainya. Selain itu, langkah ini juga termasuk pengumpulan data industri untuk tujuan perbandingan.

    d. Menganalisis data dan mengidentifikasi perbedaan signifikan.
    Analisis mengenai data rasio yang tepat menyediakan penilaian berkelanjutan atas solvabilitas, efisiensi dan profitabilitas relatig terhada tahun lalu dan terhadap perusahaan lain dalam industri yang sama. Secara serupa, perbandingan data entitas tahun berjalan dan tahun lalu akan membantu auditor untuk memahami dampak kejadian atau keputusan penting terhadap laporan keuangan entitas.

    e. Menyelidiki perbedaan signifikan yang tidak terduga dan mengevaluasi perbedaan tersebut.
    Hal ini biasanya melibatkan pertimbangan ulang metode-metode dan faktor-faktor yang digunakan dalam mengembangkan ekspektasi dan mengajukan pertanyaan kepada manajemen.

    f. Menentukan dampak hasil prosedur analitik terhadap perencanaan audit.
    Perbedaan signifikan yang tidak dapat dijelaskan biasanya dianggap sebagai indikasi suatu peningkatan risiko salah saji dalam akun-akun yang terlibat dalam perhitungan perbandingan. Dalam kasus ini, auditor biasanya akan merencanakan untuk melaksanakan pengujian yang ebih mendetil terhadap akun-aku tersebut. Prosedur analitis sering menyediakan auditor petunjuk mengenai apakah suatu akun lebih mungkin dinyatakan lebih saji atau kurang saji. Dengan mengarahkan perhatian auditor terhadap bidang-bidang yang memiliki risiko lebih tinggi, prosedur analitis dapat memberikan kontribusi bagi pelaksanaan audit yang lebih efektif dan efisien.

    3.  Mempertimbangkan tingkat materialitas awal
    a. Tingkat laporan keuangan
    b. Tingkat saldo akun
    Material awal perlu ditetapkan karena pendapat auditor atas kewajaran laporan keuangan diterapkan pada laporan keuangan sebagai keseluruhan.

    4. Mempertimbangkan risiko bawaan
    Risiko bawaan (inberent risk) suatu risiko salah saji yang melekat dalam saldo akun atau asersi tentang suatu saldo akun. Risiko pengendalian (control risk) suatu risiko tidak dapat dicegahnya salah saji material dalam suatu saldo akunatan asersi tentang suatu saldo akun oleh pengendalian intern. Risiko deteksi (detection risk) suatu risiko tidak terdeteksinya salah saji material dalam suatu saldo akun atau asersi tentang suatu saldo akun oleh prosedur audit yang dilaksanakan oleh auditor. Risiko audit suatu risiko kegagalan auditor dalam memodifikasi pendapatannya atas laporan keuangan yang secara material disajikan salah.

    5. Mengembangkan strategi audit awal terhadap asersi signifikan
    Tujuan akhir perencanaan dan pelaksanaan audit yang dilakukan auditor adalah untuk mengurangi risiko audit ke tingkat yang rendah, untuk mendukung pendapat apakah, dalam semua hal yang material, laporan keuangan disajikan secara wajar. Tujuan ini diwujudkan melalui pengumpulan dan evaluasi bukti tentang asersi yang terkandung dalam laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen.Karena keterkaitan antara bukti audit, materialitas, dan komponen risiko audit (risiko bawaan, risiko pengendalian, danm risiko deteksi), auditor dapat memilih strategi audit awal dalam perencanaan audit terhadap asersi individual atau golongan transaksi.

    6. Memahami pengendalian intern klien
    Penyajian laporan keuangan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum di in donesia mewajibkan klien untuk melaksanakan peraturan-peraturan pemerintah dan perjanjian-perjanjian legal yang lain. Jika material, informasi mengenai kewajiban legal klien, harus dijelaskan dalam laporan keuangan.

    Sebelum memulai verifikasi dan analisis terhadap transaksi dan akun tertentu, auditor perlu memahami kewajiban-kewajiban legal dan perjanjian-perjanjian yang menyangkut klien. Informasi tersebut tercantum dalam dokumen-dokumen berikut ini:
    1. Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga
    2. Perjanjian persekutuan (partnership agreement)
    3. Notulen rapat direksi dan pemegang saham
    4. Kontrak
    5. Peraturan-peraturan pemerintah yang secara langsung menyangkut perusahaan klien
    6. Arsip korespondensi

    Jumat, 23 November 2018

    SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT PADA SALURAN PERNAFASAN DAN PARU MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR

    Review jurnal

    Judul Jurnal: SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT PADA SALURAN PERNAFASAN DAN PARU MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR
    Penulis jurnal: Yossi Octavina, Abdul Fadlil (0510076701)
    Sumber Jurnal: UAD Journal


    Latar Belakang Jurnal


    Kehidupan sehari-hari masyarakat tidak menduga bahwa gejala penyakit pernafasan seperti sesak napas, batuk, tenggorokan gatal, bisa juga akan menimbulkan penyakit yang lebih serius, hal ini juga banyak dipengaruhi oleh keengganan masyarakat untuk melakukan konsultasi ke dokter. Pendidikan dokter masa kini akan melahirkan dokter masa depan yang lingkungan kerjanya tidak akan lepas dari aplikasi teknologi informasi.  Kelambanan yang dirasakan banyak mahasiswa kedokteran saat melakukan kepaniteraan untuk melakukan identifikasi dan diagnosa serta menentukan tindakan medis yang tepat terhadap penyakit, lebih khusus untuk penyakit saluran pernafasan sering dipandang sebagai halangan yang memberatkan.

    Penyakit paru dan saluran napas merupakan pernyakit yang tingkat kejadianya cukup luas dan dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia dan suku bangsa.  Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menjumpai penyakit seperti asma, bronkitis, TBC, batuk serta demam dalam masyarakat.  Sekalipun ada beberapa penyakit paru dan saluran napas yang tidak membahayakan jiwa, namun tetap tidak boleh di anggap sepele, mengingat berbagai komplikasi yang dapat di timbulkan.  Paru merupakan organ vital bagi tubuh, sehingga kesehatan paru sangatlah penting untuk dijaga.  Mengingat fungsi dari paru sebagai pusat alat pernafasan manusia.  Lingkungan yang kotor, polusi udara yang kian bertambah berat serta pola hidup tidak sehat menyebabkan penyakit paru.  Sekecil apapun terserang penyakit paru selain berbahaya juga sangat menggangu aktivitas seharihari, maka dari itu lebih baik mencegah dari pada mengobati. Ada beberapa hal yang dapat menjadi penyebab penyakit pada saluran pernafasan dan paru, misalnya zat yang berasal dari lingkungan sekitar, seperti polusi udara, bakteri, virus, dan lain sebagainya.

    Manifestasi klinis penyakit paru beberapa riwayat penyakit, pemeriksaan radiologis dan tes faal paru merupakan data yang sangat penting untuk menegakkan diagnosis penyakit paru. Pada beberapa penyakit yang mengenai paru, ada beberapa keluhan-keluhan yang sering ditemukan.  Keluhan-keluhan itu adalah batuk, dahak (sputum), sesak napas, batuk darah, sweezing (mengi), nyeri dada.  Adapun beberapa jenis penyakit paru antara lain: Tuberculosis Paru, Bronkhiektasis, Bronchitis Kronik, Asma Bronkhiale, Pneumonia, dan efusi Pleura.  Sedangkan penderita asma beresiko mengalami terjadi reaksi anafilaksis akibat alergi makanan fatal yang dapat mengancam jiwa.

    Asma juga dapat terjadi pada siapa saja dan dapat timbul segala usia.  Meskipun demikian, umumnya asma lebih sering terjadi pada anak-anak usia dibawah 5 tahun dan orang dewasa pada usia sekitar 30 tahunan.

    Untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut penulis mencoba membuat program sistem pakar yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi masalah-masalah penyakit saluran pernafasan bagian bawah dan paru khususnya yang sering muncul dan di alami oleh manusia.  Kemampuan sistem dalam mendiagnosa suatu gejala tidak 100% sama dengan diagnosa seorang dokter, masih banyak hal yang tidak pasti atau tidak konsisten sehingga dapat menyebabkan kemungkinan kesalahan dalam diagnosa. Ketidak konsistenan ini dapat menyebabkan keraguan hasil diagnosa sistem dan dapat menimbulkan sebuah pertanyaan tentang besarnya prosentase kepastian hasil diagnosa tersebut. Perhitungan ketidakpastian diperlukan dalam sistem pakar untuk dapat meyakinkan pasien (pengguna sistem) akan hasil diagnosa yang dihasilkan sehingga sistem pakar yang dibuat benar-benar seperti layaknya diagnosa seorang dokter sebagai pakar dalam bidang tersebut. Oleh karena itu dibangun suatu sistem pakar yang dapat membantu intelektual kesehatan, mahasiswa kedokteran maupun pakar untuk mendiagnosa penyakit pada saluran pernafasan dan paru menggunakan metode certainty factor (CF).

    Metode Penulisann Jurnal:

    Metode Certainty Factor (CF)

    Tujuan Penulisan Jurnal

    1. Membantu mengatasi masalah penyakit seperti asma, bronkitis, TBC, batu, serta demam dalam masyarakat.
    2. Membantu mengidentifikasi masalah penyakit saluran pernafasan bagian bawah dan paru, khususnya yang sering muncul dan dialami manusia.
    3. Mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan diri dengan hidup bersih, menaruh sampah di tempat yang disediakan dan tidak menunda pengobatan.

    Review Pembahasan Jurnal:

    Metode Certainty Factor menurut David McAllister: suatu metode untuk membuktikan apakah suatu fakta itu pasti atau tidak pasti yang berbentuk metric yang biasanya digunakan dalam sistem pakar.  Metode ini sangat cocok untuk sistem pakar yang mendiagnosa sesuatu yang belum pasti.

    Jurnal ini membahas bagaimana menjelaskan permasalahan yang dihadapi oleh penderita tentang penyakit, gejala dan pengobatan penyakit pada saluran pernafasan.

    Konsep kecerdasan buatan
    Kecerdasan Buatan berasal dari kata Artificial Intelligence yang mengandung arti tiruan atau kecerdasan. Secara harafiah, Artificial Intelligence adalah kecerdasan buatan.

    Pada aplikasi kecerdasan buatan ada 2 bagian utama yang sangat dibutuhkan yaitu:
    a. Basis pengetahuan (Knowledge Base), berisi fakata, teori pemikirandan hubungan antara satu dengan yang lainnya.
    b. Mesin Inferensi (Inference Engine), kemampuan untuk menarik kesimpulan berdasar pengalaman.

    Komponen Sistem Pakar
    Pada umumnya, sistem pakar punya tiga elemen, yaitu Knowledge Base, Inference Engine dan User Interface. Ketiga komponen sistem pakar:


    a. Representasi Pengetahuan
    Representasi pengetahuan adalah metode yang digunakan untuk mengkodekan pengetahuan dalam sebuah sistem pakar yang berbasis pengetahuan. Representasi pengetahuan dimaksudkan untuk menangkap sifat-sifat penting problema dan membuat informasi tersebut dapat diakses oleh prosedur pemecahan masalah.

    b. Antarmuka Pengguna
     Antarmuka pengguna adalah perangkat lunak yang menyediakan media komunikasi antara pengguna dengan sistem. User Interface merupakan mekanisme yang digunakan oleh pengguna dan sistem pakar untuk berkomunikasi. Antarmuka menerima informasi dari pemakai dan mengubahnya ke dalam bentuk yang dapat diterima oleh sistem.

    c. Mesin Inferensi
    Mesin inferensi adalah program komputer yang memberikan metodologi untuk penalaran tentang informasi yang ada dalam basis pengetahuan dan dalam workplace dan untuk memformulasikan kesimpulan (Turban, 1995).

    Metode Penelitian
    Subjek penelitian dari ini adalah membuat aplikasi sistem pakar untuk mendiagnosa penyakit pada saluran pernafasan dan paru menggunakan metode certainty factor (CF). Langkah yang dilakukan dalam suatu penelitian meliputi pengumpulan data dan proses analisis. Selanjutnya data tersebut diolah untuk mendapatkan kesimpulan. Dalam penelitian ini menggunakan metode pengembangan sistem Waterfall (Model Air Terjun) yaitu analisis dan definis persyaratan, perancangan sistem dan perangkat lunak, implementasi sistem (coding) dan pengujian unit, integrasi dan pengujian sistem kemudian operasi dan pemeliharaan. 

    Kelebihan Jurnal:

    1. Pembahasan model yang digunakan, prototype sudah baik
    2. Analisa kebutuhan data dan sistem sudah lengkap dan baik
    3. User Interface yang dibuat sudah bagus dan menarik.

    Saran:
    1. Alangkah lebih baik jika diberi pembahasan mengenai metode yang digunakan. Jadi, pembaca jurnal dapat lebih memahami apa itu metode CF, bagaimana cara kerjanya, apa saja aturan saat implemetasi, dll.

    Kesimpulan:

    Berdasarkan hasil pengembangan dan pembahasan maka dapat disimpulkan: 
    1. Dari penelitian dihasilkan sebuah perangkat lunak (software) baru tentang sistem pakar yang mampu sebagai pendukung untuk mengambil keputusan dengan memberikan solusi untuk membantu diagnosa penyakit pada saluran pernafasan dan paru-paru dengan jumlah penyakit 18 penyakit yang sudah di verifikasi ahli pakar (dokter spesialis pernafasan paru) dan dapat sebagai media belajar bagi mahasiswa kedokteran dan digunakan di klinik umum khususnya di daerah. 
    2. Perangkat lunak yang dihasilkan mampu mengidentifikasi penyakit dengan mendokumentasikan informasi mengenai pengetahuan dari pakar (dokter spesialis pernafasan dan paru). 

    Daftar Pustaka:

    [1]   Wijaya, Indriani., 2010, Buku Pintar Atasi Asma, Pinang Merah.Yogyakarta 
    [2]   Nurman A, Fajrin., 2009, Sistem Pakar untuk Menangani Penyakit Jantung dengan Metode Certainty Factor. Skripsi S1, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. 
    [3]   Kusumadewi, Sri., 2003, Artificial Intelligence (Teknik dan Aplikasinya), Graha Ilmu, Yogyakarta. 
    [4]     Wijayanti, Picesa Ayu., 2009, Sistem Pakar untuk menentukan ramuan herbal pada penyakit kulit menggunakan Certainty Factor.S Skripsi S1, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. 
    [5]   Santosa, Slamet., 2006,Sistem Pakar untuk Mendeteksi Penyakit Saluran Pernapasan, Skripsi S1, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. 
    [6]   Rusli, Fita., 2008, Sistem Pakar untuk Mendiagnosa secara Medis Penyakit Paru Menggunakan logika Fuzzy, Skripsi S1, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. 
    [7]  Junaidi, Iskandar.dr, 2010, Penyakit Paru dan Saluran Pernapasan, PT.Bhuana Ilmu Populer (kelompok gramedia). Jakarta 
    [8]       Fathansyah, 2002,  Basis Data, CV. Informatika, Bandung. 
    [9]    Kusrini, 2006, Sistem Pakar Teori Dan Aplikasi. CV Andi Offset, Yogyakarta 
    [10]      http://www.jogjatrip.com/id/directory/Medical-­‐ Specialist/yogyakarta/15, Dokter Spesialis di Yogyakarta, 28 Maret 2011 
    [11]      http://www.infoasma.org/asma.html, ASMA, 28 Maret 2011 
    [12]  http://www.klikpdpi.com/, PERHIMPUNAN DOKTER PARU INDONESIA Cabang Yogyakarta, 29 Maret 2011 
    [13]     Sommerville, An. 2003 software engineering ;rekayasa perangkat lunak. jilid 1. Jakarta : Erlangga


    Nama: Fransiskus Eko Utomo
    NPM: 12116916
    Kelas: 3KA07

    Jumat, 02 November 2018

    Sistem Pakar / Expert System

    Sistem pakar / Expert System.

    Untuk materi kali ini mengenai sistem pakar. Untuk kalian yang ingin men-download
    file PPT nya, silahkan klik DISINI.

    Saya juga menyediakan video penjelasan mengenai materi ini. Silahkan disimak dibawah



    Jumat, 12 Oktober 2018

    Artificial Intelligence / Kecerdasan Buatan

    1. Pengertian teknologi sistem cerdas
        -     Adalah ilmu rekayasa yang membuat suatu mesin mempunyai intelegensi tertentu khususnya program komputer yang "cerdas". Merupakan kawasan penelitian, aplikasi dan instruksi yang terkait dengan pemrograman komputer untuk melakukan hal-hal yang dalam pandangan manusia adalah "cerdas". Dan mesin yang mampu menirukan kemampuan manusia dalam proses pembuatan keputusan juga dapat mempelajari cara bertindak sehingga mampu mencapai tujuannya.

    2. Pengertian Artificial Intelligence
       -      Kecerdasan yang ditambahkan kepada suatu sistem yang bisa diatur dalam konteks ilmiah atau intelegensi buatan. Didefinisikan sebagai kecerdasan entitas ilmiah. Kecerdasan diciptakan ke dalam suatu mesin agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan manusia.

    3. Perbedaan kecerdasan alami dan buatan
        -     Buatan:
              1. Lebih murah
              2. Bersifat permanen
              3. Mudah di duplikasi
       -     Alami
               1. Kreatif
               2. Menggunakan pengalaman
               3. Digunakan luas

    4. Sejarah kecerdasan buatan
       -      Tahun 1950-an adalah periode usaha aktif dalam AI. Program AI pertama yang bekerja ditulis ditulis pada 1951 untuk menjalankan mesin Ferranti Mark 1 di University of Manchester: sebuah program permainan naskah yang ditulis oleh Christopher Strachey dan program permainan catur yang ditulis oleh Dietrich Prinz.

    5. Contoh teknologi sistem cerdas
            1. Siri
            2. Google Assistant
            3. Cortana
            4. Alexa
            5. Tesla


    Berikut ini saya lampirkan video penjelasan beberapa poin mengenai Kecerdasan Buatan.



    Berikut ini juga saya lampirkan slide Power Point yang saya buat:



    Fransiskus Eko Utomo
    3KA07
    12116916

    Selasa, 01 Mei 2018

    Manajemen Memori


    MANAJEMEN MEMORI



    PENULIS
    Ahmad Pujianto                      (10116392)
    Arya Zulfikar Tetuko              (11116125)
    Deki Panca Pradila                 (11116782)
    Fransiskus Eko Utomo           (12116916)
    Muhammad Alfarabi Said      (14116692)



    UNIVERSITAS GUNADARMA
    SISTEM INFORMASI
    2017/2018


    KATA PENGANTAR

    Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. bahwa penulis telah menyelesaikan tugas mata kuliah Sistem Operasi pada pokok bahasan “Manajemen Memori” dalam bentuk makalah.
    Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua, dosen dan rekan- rekan mahasiswa sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya.
    Penulis juga mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sehingga untuk penciptaan karya tulis yang lain kami bisa memberikan yang lebih baik lagi. Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amin.

    Depok, 01 Mei 2018


    Penulis





    DAFTAR ISI
    KATA PENGANTAR ......................................................................... ii
    DAFTAR ISI ....................................................................................... iii
    BAB I PENDAHULUAN ................................................................... 5
    1.1  Latar Belakang ................................................................... 5
    1.2  Pokok Masalah ..............................................................      6
    1.3  Tujuan ...........................................................................      6
    BAB II PEMBAHASAN ...............................................................      7
                2.1 Manajemen Memori ......................................................      7
                            2.1.1 Konsep Dasar Memori ...................................      7
                                   Konsep Binding ................................................      8
                                   Dynamic Loading.................................................. 9
                                   Dynamic Linking................................................... 9
                                   Overlay..............................................................     10
                            2.1.2 Strategi Manajemen Memori...........................     11
                            2.1.3 Ruang Alamat Logika dan Fisik.....................     12
                            2.1.4 Swaping...........................................................     12
                            2.1.5 Pencatatan Pemakaian Memori ......................      15
                                   Peta Bit..............................................................     16
                                   Linked List........................................................     16
                            2.1.6 Monoprogramming ............................................. 17
                            2.1.7 Pengalokasian Berurutan ...............................      18
                                   Multiprogramming dan Partisi Statis................     19
                                   Multiprogramming dan Partisi Dinamis................ 19
                                   Sistem Buddy ...................................................      19
                            2.1.8 Pengalokasian Tak Berurutan ............................. 19
                                   Paging................................................................     20
                                   Segmentasi........................................................     20
    BAB III PENUTUP.........................................................................     21
                3.1 Kesimpulan ........................................................................ 21
                3.2 Saran...............................................................................     22
    DAFTAR ISTILAH............................................................................. 23
    DAFTAR PUSTAKA.......................................................................... 25









    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang
    Biasanya, istilah Sistem Operasi sering ditujukan kepada semua perangkat lunak yang masuk dalam satu paket dengan sistem komputer sebelum aplikasi-aplikasi perangkat lunak terinstal. Sistem operasi adalah perangkat lunak sistem yang bertugas untuk melakukan kontrol dan manajemen perangkat keras serta operasi-operasi dasar sistem, termasuk menjalankan perangkat lunak aplikasi seperti program-program pengolah kata dan peramban web.
    Secara umum, Sistem Operasi adalah perangkat lunak pada lapisan pertama yang ditempatkan pada memori komputer pada saat komputer dinyalakan booting. Sedangkan software-software lainnya dijalankan setelah Sistem Operasi berjalan, dan Sistem Operasi akan melakukan layanan inti untuk software-software itu. Layanan inti tersebut seperti akses ke disk, manajemen memori, penjadwalan tugas schedule task, dan antar-muka user GUI/CLI. Sehingga masing-masing software tidak perlu lagi melakukan tugas-tugas inti umum tersebut, karena dapat dilayani dan dilakukan oleh Sistem Operasi. Bagian kode yang melakukan tugas-tugas inti dan umum tersebut dinamakan dengan "kernel" suatu Sistem Operasi.
    Kalau sistem komputer terbagi dalam lapisan-lapisan, maka Sistem Operasi adalah penghubung antara lapisan hardware dengan lapisan software. Sistem Operasi melakukan semua tugas-tugas penting dalam komputer, dan menjamin aplikasi-aplikasi yang berbeda dapat berjalan secara bersamaan dengan lancar. Sistem Operasi menjamin aplikasi lainnya dapat menggunakan memori, melakukan input dan output terhadap peralatan lain, dan memiliki akses kepada sistem berkas. Apabila beberapa aplikasi berjalan secara bersamaan, maka Sistem Operasi mengatur schedule yang tepat, sehingga sedapat mungkin semua proses yang berjalan mendapatkan waktu yang cukup untuk menggunakan prosesor (CPU) serta tidak saling mengganggu.
    Dalam banyak kasus, Sistem Operasi menyediakan suatu pustaka dari fungsi-fungsi standar, dimana aplikasi lain dapat memanggil fungsi-fungsi itu, sehingga dalam setiap pembuatan program baru, tidak perlu membuat fungsi-fungsi tersebut dari awal.
    Sistem Operasi secara umum terdiri dari beberapa bagian:
    1.      Mekanisme Boot, yaitu meletakkan kernel ke dalam memory
    2.      Kernel, yaitu inti dari sebuah Sistem Operasi
    3.      Command Interpreter atau shell, yang bertugas membaca input dari pengguna
    4.      Pustaka-pustaka, yaitu yang menyediakan kumpulan fungsi dasar dan standar yang dapat dipanggil oleh aplikasi lain
    5.      Driver untuk berinteraksi dengan hardware eksternal, sekaligus untuk mengontrolnya.
    1.2   Pokok Masalah
    Dari sekian banyak materi yang ada dalam sistem operasi, dalam Makalah ini penyusun mencoba menguraikan hanya mengenai:
    ·         Manajemen Memori
    Untuk lebih lengkapnya, kami akan mengulasnya di BAB II.

    1.3 Tujuan
    Dalam penulisan makalah ini penyusun mempunyai dua tujuan utama yaitu secara umum dan khusus. Tujuan Secara Umum yakni Untuk memudahkan para pembaca dalam mencari refernsi terkait dengan materi Sistem Operasi, dan secara khusus untuk memenuhi nilai tugas pada mata kuliah sistem operasi.

    BAB 2
    PEMBAHASAN

    Memori adalah pusat dari operasi pada sistem komputer modern, berfungsi sebagai tempat penyimpanan informasi yang harus diatur dan dijaga sebaik-baiknya. Memori adalah array besar dari word atau byte, yang disebut alamat. CPU mengambil instruksi dari memory berdasarkan nilai dari program counter. Instruksi ini menyebabkan penambahan muatan dari dan ke alamat memori tertentu. Sedangkan manajemen memori adalah suatu kegiatan untuk mengelola memori komputer. Proses ini menyediakan cara mengalokasikan memori untuk proses atas permintaan mereka, membebaskan untuk digunakan kembali ketika tidak lagi diperlukan serta menjaga alokasi ruang memori bagi proses. Pengelolaan memori utama sangat penting untuk sistem komputer.
    Berikut kami sajikan bahasan-bahasan yang terkait dengan memori:

    2.1 MANAJEMEN MEMORI

    2.1.1 Konsep Dasar Memori
    Memori sebagai tempat penyimpanan instruksi/data dari program. Memori adalah pusat kegiatan pada sebuah komputer, karena setiap proses yang akan dijalankan, harus melalui memori terlebih dahulu. Supaya untuk dapat dieksekusi, program harus dibawa ke memori dan menjadi suatu proses.
    Jenis-jenis Memori:
    Memori Kerja
    1        ROM/PROM/EPROM/EEPROM
    2        RAM
    3        Cache memory

    Memori Dukung
    1        Floppy
    2        Harddisk
    3        CD, dll

    Konsep Binding
    Sebelum eksekusi, program berada di dalam disk, dan saat dieksekusi program tersebut perlu berada pada suatu lokasi dalam memori fisik. Address Binding adalah cara instruksi dan data (yang berada di disk sebagai file executable) dipetakan ke alamat memori. Alamat (address) pada source program umumnya merupakan alamat simbolik. Sebuah compiler biasanya membutuhkan “mengikat” (bind) alamat simbolik ke alamat relokasi.
    Address Binding dapat berlangsung dalam 3 tahap yang berbeda, yaitu:
    ·         kompilasi,
    ·         load, atau
    ·         eksekusi dari suatu program
    Cara Sistem Operasi menempatkan program di dalam memori:
    ·         Kompilasi dan Linking menerjemahkan semua simbol data berdasarkan alamat acuan absolut
    Proses relokasi (proses mapping program dari lokasi memori) terjadi apabila:
    ·         Jika program berada di memori, maka semua alamat lojik dalam program harus dikonversi ke alamat fisik.
    ·         Statis: relokasi alamat dilakukan sebelum program dijalankan
    ·         Dinamis: relokasi alamat dilakukan pada saat referensi setiap instruksi atau data

    Dynamic Loading
    Dengan dynamic loading merupakan suatu routine tidak diload sampai dipanggil. Semua routine disimpan pada disk sebagai format relocatable load.
    Mekanisme dasar:
    ·         Program utama diload dahulu dan dieksekusi
    ·         Bila suatu routine perlu memanggil routine yang lain, routine yang dipanggil lebih dahulu diperiksa apakah routine yang dipanggil sudah diload. Jika tidak, relocatable linking loader dipanggil untuk meload routine yang diminta ke memori dan mengupdate tabel alamat dari program yang mencerminkan perubahan ini.
    Keuntungan dari dynamic loading adalah:
    ·         Rutin yang tidak digunakan tidak pernah di-load
    ·         Cocok untuk kode dalam jumlah besar
    ·         Digunakan untuk menangani kasus-kasus yang jarang terjadi seperti error routine
    ·         Tidak memerlukan dukungan khusus dari sistem operasi. Sistem operasi hanya perlu menyediakan beberapa rutin pustaka untuk implementasi dynamic loading.

    Dynamic Linking
    Konsep dynamic linking sama dengan dynamic loading. Karena pada saat loading, linking ditunda hingga waktu eksekusi.
    Program-program user tidak perlu menduplikasi system library karena:
    ·         System library dipakai bersama
    ·         Mengurangi pemakaian space: satu rutin library di memori digunakan secara bersama oleh sekumpulan proses
    Contoh: DLL Win32
    Mekanisme menggunakan stub (potongan kecil yang mengindikasikan bagaimana meload library jika routine tidak tersedia saat itu):
    ·         Saat stub dieksekusi, ia akan memeriksa apakah rutin ybs sudah berada di dalam memori (diakses oleh proses lain yang run), kalau belum ada maka rutin tersebut diload
    ·         Stub menempatkan dirinya pada alamat rutin dan mengeksekusi rutin tersebut
    Dynamic Linking membutuhkan beberapa dukungan dari OS, misal:
    ·         Bila proses-proses di memori utama saling diproteksi, maka SO melakukan pengecekan apakah rutin yang diminta berada diluar alamat.
    ·         Beberapa proses diijinkan untuk mengakses memori pada alamat yang sama.
    File dynamic linking berekstensi:
    ·         .dll
    ·         .sys
    ·         .drv

    Overlay
    Hanya instruksi dan data yang diperlukan pada suatu waktu yang disimpan di memori. Overlay diperlukan jika ukuran proses lebih besar dari memori yang dialokasikan untuknya.
    Overlay tidak membutuhkan dukungan khusus dari SO antara lain:
    ·         User dapat mengimplementasikan secara lengkap menggunakan struktur file sederhana
    ·         OS memberitahu hanya jika terdapat I/O yang melebihi biasanya

    2.1.2 Strategi Manajemen Memori
    Strategi yang dikenal untuk mengatasi hal tersebut adalah memori maya. Memori maya menyebabkan sistem seolah-olah memiliki banyak memori dibandingkan dengan keadaan memori fisik yang sebenarnya. Memori maya tidak saja memberikan peningkatan komputasi, akan tetapi memori maya juga memiliki bberapa keuntungan seperti:
     Large Address Space
    Membuat sistem operasi seakan-akan memiliki jumlah memori melebihi kapasitas memori fisik yang ada. Dalam hal ini memori maya memiliki ukuran yang lebih besar daripada ukuran memori fisik.
    Proteksi
    Setiap proses di dalam sistem memiliki virtual address space. Virtual address space tiap proses berbeda dengan proses yang lainnya lagi, sehingga apapun yang terjadi pada sebuah proses tidak akan berpengaruh secara langsung pada proses lainnya
    Memory Mapping
    Memory mapping digunakan untuk melakukan pemetaan image dan file-file data ke dalam alamat proses. Pada pemetaan memori, isi dari file akan di link secara langsung ke dalam virtual address space dari proses.
    Fair Physical Memory Allocation
    Digunakan oleh Manajemen Memori untuk membagi penggunaan memori fisik secara “adil” ke setiap proses yang berjalan pada sistem.
    Shared Virtual Memory
    Meskipun tiap proses menggunakan address space yang berbeda dari memori maya, ada kalanya sebuah proses dihadapkan untuk saling berbagi penggunaan memori.

    2.1.3 Ruang Alamat Logika dan Fisik
    Alamat Logika adalah alamat yang digenerate oleh CPU, disebut juga Alamat Virtual. Alamat Fisik adalah alamat yang terdapat di memori. Perlu ada penerjemah (translasi) untuk menerjemahkan bahasa dari alamat logika ke alamat fisik. MMU (Memory Management Unit) adalah perangkat keras yang memetakan alamat logika ke alamat fisik.
    Dalam Skema MMU:
    ·         Menyediakan perangkat register yang dapat diset oleh CPU: setiap proses mempunyai data set register tersebut (disimpan di PCB)
    ·         Harga dalam register base/relokasi ditambahkan ke setiap alamat proses user pada saat run dimemori
    ·         Program-program user hanya berurusan dengan alamat logika saja

    2.1.4 Swapping
    Sebuah proses, sebagaimana telah diterangkan di atas, harus berada di memori sebelum dieksekusi. Proses swapping menukarkan sebuah proses keluar dari memori untuk sementara waktu ke sebuah penyimpanan sementara dengan sebuah proses lain yang sedang membutuhkan sejumlah alokasi memori untuk dieksekusi. Tempat penyimpanan sementara ini biasanya berupa sebuah fast disk dengan kapasitas yang dapat menampung semua salinan dari semua gambaran memori serta menyediakan akses langsung ke gambaran tersebut. Jika eksekusi proses yang dikeluarkan tadi akan dilanjutkan beberapa saat kemudian, maka ia akan dibawa kembali ke memori dari tempat penyimpanan sementara tadi. Bagaimana sistem mengetahui proses mana saja yang akan dieksekusi? Hal ini dapat dilakukan dengan ready queue. Ready queue berisikan semua proses yang terletak baik di penyimpanan sementara maupun memori yang siap untuk dieksekusi. Ketika penjadwal CPU akan mengeksekusi sebuah proses, ia lalu memeriksa apakah proses bersangkutan sudah ada di memori ataukah masih berada dalam penyimpanan sementara. Jika proses tersebut belum berada di memori maka proses swapping akan dilakukan seperti yang telah dijelaskan di atas.
    Sebuah contoh untuk menggambarkan teknik swapping ini adalah sebagai berikut: Algoritma Round-Robin yang digunakan pada multiprogramming environment menggunakan waktu kuantum (satuan waktu CPU) dalam pengeksekusian proses-prosesnya. Ketika waktu kuantum berakhir, memory manager akan mengeluarkan (swap out) proses yang telah selesai menjalani waktu kuantumnya pada suatu saat serta memasukkan (swap in) proses lain ke dalam memori yang telah bebas tersebut. Pada saat yang bersamaan penjadwal CPU akan mengalokasikan waktu untuk proses lain dalam memori. Hal yang menjadi perhatian adalah, waktu kuantum harus cukup lama sehingga waktu penggunaan CPU dapat lebih optimal jika dibandingkan dengan proses penukaran yang terjadi antara memori dan disk.
    Teknik swapping roll out, roll in menggunakan algoritma berbasis prioritas dimana ketika proses dengan prioritas lebih tinggi tiba maka memory manager akan mengeluarkan proses dengan prioritas yang lebih rendah serta me-load proses dengan prioritas yang lebih tinggi tersebut. Saat proses dengan prioritas yang lebih tinggi telah selesai dieksekusi maka proses yang memiliki prioritas lebih rendah dapat dimasukkan kembali ke dalam memori dan kembali dieksekusi.
    Sebagian besar waktu swapping adalah waktu transfer. Sebagai contoh kita lihat ilustrasi berikut ini: sebuah proses pengguna memiliki ukuran 5 MB, sedangkan tempat penyimpanan sementara yang berupa harddisk memiliki kecepatan transfer data sebesar 20 MB per detiknya. Maka waktu yang dibutuhkan untuk mentransfer proses sebesar 5 MB tersebut dari atau ke dalam memori adalah sebesar 5000 KB / 20000 KBps = 250 ms.
    Perhitungan di atas belum termasuk waktu latensi, sehingga jika kita asumsikan waktu latensi sebesar 2 ms maka waktu swap adalah sebesar 252 ms. Oleh karena terdapat dua kejadian dimana satu adalah proses pengeluaran sebuah proses dan satu lagi adalah proses pemasukan proses ke dalam memori, maka total waktu swap menjadi 252 + 252 = 504 ms.
    Agar teknik swapping dapat lebih efisien, sebaiknya proses-proses yang di- swap hanyalah proses-proses yang benar-benar dibutuhkan sehingga dapat mengurangi waktu swap. Oleh karena itulah, sistem harus selalu mengetahui perubahan apapun yang terjadi pada pemenuhan kebutuhan terhadap memori. Disinilah sebuah proses memerlukan fungsi system call, yaitu untuk memberitahukan sistem operasi kapan ia meminta memori dan kapan membebaskan ruang memori tersebut.
    Jika kita hendak melakukan swap, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Kita harus menghindari menukar proses dengan M/K yang ditunda (asumsinya operasi M/K tersebut juga sedang mengantri di antrian karena peralatan M/Knya sedang sibuk). Contohnya seperti ini, jika proses P1dikeluarkan dari memori dan kita hendak memasukkan proses P2, maka operasi M/K yang juga berada di antrian akan mengambil jatah ruang memori yang dibebaskan P1 tersebut. Masalah ini dapat diatasi jika kita tidak melakukan swap dengan operasi M/K yang ditunda. Selain itu, pengeksekusian operasi M/K hendaknya dilakukan pada buffer sistem operasi.
    Tiap sistem operasi memiliki versi masing-masing pada teknik swapping yang digunakannya. Sebagai contoh pada UNIX, swapping pada dasarnya tidak diaktifkan, namun akan dimulai jika banyak proses yang membutuhkan alokasi memori yang banyak. Swapping akan dinonaktifkan kembali jika jumlah proses yang dimasukkan berkurang. Pada sistem operasi Microsoft Windows 3.1, jika sebuah proses baru dimasukkan dan ternyata tidak ada cukup ruang di memori untuk menampungnya, proses yang lebih dulu ada di memori akan dipindahkan ke disk. Sistem operasi ini pada dasarnya tidak menerapkan teknik swapping secara penuh, hal ini disebabkan pengguna lebih berperan dalam menentukan proses mana yang akan ditukar daripada penjadwal CPU. Dengan ketentuan seperti ini proses-proses yang telah dikeluarkan tidak akan kembali lagi ke memori hingga pengguna memilih proses tersebut untuk dijalankan.

    2.1.5 Pencatatan Pemakain Memori
    Memori yang tersedia harus dikelola, dilakukan dengan pencatatan pemakaian memori. Terdapat dua cara utama pencatatan pemakaian memori, yaitu:

    1.      Peta Bit.
    Memori dibagi menjadi unit-unit alokasi, berkorespondensi dengan tiap unit alokasi adalah satu bit pada bit map.
    ·         Nilai 0 pada peta bit berarti unit itu masih bebas.
    ·         Nilai 1 berarti unit digunakan.
    Masalah pada peta bit adalah penetapan mengenai ukuran unit alokasi memori, yaitu:
    ·         Unit lokasi memori berukuran kecil berarti membesarkan ukuran peta bit.
    ·         Unit alokasi memori n berukuran besar berarti peta bit kecil tapi memori banyak disiakan pada unit terakhir jika ukuran proses bukan kelipatan unit alokasi.
    Keunggulan:
    ·         Dealokasi dapat dilakukan secara mudah, hanya tinggal menset bit yang berkorespondensi dengan unit yang telah tidak digunakan dengan 0.
    Kelemahan:
    ·         Harus dilakukan penghitungan blok lubang memori saat unit memori bebas.
    ·         Memerlukan ukutan bit map besar untuk memori yang besar.

    2.      Linked List.
    Sistem operasi mengelola senarai berkait (linked list) untuk segmen-segmen memori yang telah dialokasikan dan bebas. Segmen memori menyatakan memori untuk proses atau memori yang bebas (lubang). Senarai segmen diurutkan sesuai alamat blok.
    Keunggulan:
    ·         Tidak harus dilakukan perhitungan blok lubang memori karena sudah tercatat di node.
    ·         Memori yang diperlukan relatif lebih kecil.
    Kelemahan:
    ·         Dealokasi sulit dilakukan karena terjadi berbagai operasi penggabungan

    2.1.6 Monoprogramming
    Monoprogramming sderhana tanpa swapping merupakan manajemen memori sederhana. Sistem computer hanya mengijinkan satu program pemakai berjalan pada satu waktu. Semua sumber daya sepenuhnya dikuasai proses yang sedang berjalan.
    Ciri-ciri:
    ·         Hanya satu proses pada satu saat
    ·         Hanya satu proses menggunakan semua memori
    ·         Pemakai memuatkan program ke seluruh memori dari disk/tape
    ·         Program mengambil alih kendali seluruh mesin
    Karena hanya terdapat satu proses dan menguasai seluruh sistem maka alokasi memori dilakukan secara berturutan.

    Embedded system
    Teknik monoprogramming masih dipakai untuk sistem kecil yaitu system tempelan (Embedded sitem) yang terdapat pada system lain. Sistem tempelan menggunakan mikroprosessor kecil. Sistem ini biasanya mengendalikn suatu alat sehingga bersifat intelejen(intelejentdevice) dalam menyediakan satu fungsi spesifik.
    Proteksi pada monoprogramming sederhana
    Pada monoprogramming pemakai memiliki kendali penuh terhadapmemori utama. Memori terbagi menjadi 3 bagian, yaitu
    ·         Bagian rutin system operasi
    ·         Bagian program pemakai
    ·         Bagian yang tidak digunakan
    Masalah proteksi di monoprogramming adalah cara untuk melindungi rutin system operasi dari penghancuran program pemakai. Program pemakai dapat tersesat sehingga memanipulasi atau menempati ruang memori rutin system operasi. Aktivitas ini dapat merusak system operasi.
    Proteksi diimplementasikan dengan menggunakan satu register batas di processor. Setiap kali program pemakai mengacu alamat memori dibandingkan dengan register batas untuk memastikan proses tidak pemakai tidak merusak system operasi, yaitu tidak melewati nilai register batas.
    Register batas berisi alamat memori tertinggi yang dipakai system operasi. Jika program pemakai mencoba memasuki system operasi, instruksi diintersepsi dan job diakhiri dan diberi pesan kesalahan.

    2.1.7 Pengalokasian Berurutan (Contigous Allocation)
    Alokasi memori secara berturutan adalah tiap proses menempati satu blok tunggal memori yang berturutan
    Multiprograming
    Multiprogramming merupakan banyak proses pada memori utama pada saat bersamaan. Alasan mengunakan multiprogramming:
    ·         Mempermudah pemogram karena pemrogram dapat memecah program menjadi dua proses atau lebih.
    ·         Dapat memberi layanan interaktif ke beberapa orang secara simultan.
    ·         Efisiensi penggunaan sumber daya.
    ·         Eksekusi lebih murah jika proses besar dipecah menjadi beberapa proses kecil.
    ·         Dapat mengerjakan sejumlah job secara simultan
    Multiprogramming dengan Pemartisisan Dinamis
    Jumlah lokasi dan ukuran proses di memori dapat beragam sepanjang waktu secara dinamis.
    Kelemahan:
    ·         Dapat terjadi lubang-lubang kecil memori di antara partisi-partisi yang dipakai.
    ·         Merumitkan alokasi dan dealokasi memori
    Multiprogramming dengan Permartisian Statis
    Terbagi dua:
    ·         Pemartisian menjadi partisi-partisi berukuran sama, yaitu ukuran semua partisi memori adalah sama
    ·         Pemartisian menjadi partisi-partisi berukuran berbeda, yaitu ukuran semua partisi memori adalah berbeda.
    System Buddy
    Sistem buddy adalah algoritma pengelolaan memori yang memanfaatkan kelebihan penggunaan bilangan biner dalam pegalamatan memori. Karakteristik bilangan biner digunakan untuk mempercepat penggabungan lubang-lubang berdekatan ketika proses terakhir atau dikeluarkan.

    2.1.8 Pengalokasian Tak Berurutan (Non Contiguous Allocation)
    Program/proses ditempatkan pada beberapa segmen berserakan, tidak perlu saling berdekatan atau berurutan. Biasanya digunakan untuk lokasi memori maya sebagai lokasi page-page.
    Kelebihan: sistem dapat memanfaatkan memori utama secara lebih efesien, dan sistem opersi masih dapat menyisip proses bila jumlah lubang-lubang memori cukup untuk memuat proses yang akan dieksekusi.
    Kekurangan: memerlukan pengendalian yang lebih rumit dan memori jadi banyak yang berserakan tidak terpakai.
    Terdapat 2 (dua) macam pemilahan, yaitu
    a. Berpilah Suku (paging)
    Informasi atau pekerjaan di dalam memori dukung dipilah ke dalam sejumlah suku (page), dan memori kerja dipilah ke dalam sejumlah rangka (frame)
    b. Berpilah Segmen (segmentasi)          
    Pilahan yang ukuran segmen disesuaikan dengan isi segmen salah satu macam pemilahan gabungan suku dan segmen adalah pemilahan suku bersegmen, dimana suku dikelompokan ke dalam sejumlah segmen.
    Chace memory memiliki kecepatan lebih tinggi sebagai memori antara yang mempercepat proses pada memory kerja, juga sebagai transit lalulintas data selama proses dengan sumberdaya lain pada memori utama.
    Pemindahan proses dari memori utama ke disk dan sebaliknya disebut swapping.

    BAB 3
    PENUTUP

    3.1 Kesimpulan
    Dalam sistem operasi komputer mengenal suatu sistem manajemen file. Sistem manajemen file ini perlu diimplementasikan untuk dapat digunakandalam sistem operasi komputer. Dalam pengimplementasiannya, seringkalimenimbulkan beberapa masalah, oleh karena itu masalah tersebut harus dapatdiselesaikan oleh sistem operasi komputer. Penyelesaiannya memiliki beberapa cara yang masing-masing memiliki keunggulun dan kelemahantersendiri. Kinerja dari sistem manajemen file pun memiliki beberapa carayang dapat digunakan seperti yang telah kami paparkan dalam isi makalah ini. Kita juga harus menguasai dalam pembuatan database dan memahamisistem berkas dalam komputer, karena database dapat membantu kitamembuat suatu sistem yang praktis, tanpa redundansi dan mudah untuk digunakan, walaupun dalam penggunaannya memiliki beberapa kekurangan. Sedangkan sistem berkas, dapat membantu kita untuk mengelola berkas dalam pengelolaan komputer.
    File system atau manajemen file adalah metode dan struktur data yang digunakan sistem operasi untuk mengatur dan mengorganisir file pada disk atau partisi. File system juga dapat diartikan sebagai partisi atau disk yang digunakan untuk menyimpan file-file dalam cara tertentu. Cara memberi suatu file system ke dalam disk atau partisi dengan cara melakukan Format.



    3.2 Saran
    Memahami bagaimana cara kerja sistem operasi beserta atribut-atributnya dapat membuat kita mamahami dan mudah membuat program yang kita inginkan. Oleh karena itu, menambah wawasan mengenai komputer dapat menjadi satu solusi agar kita bisa lebih maju sebagai mahasiswa jurusan informatika dan sebagai manusia yang hidup dalam era globalisasi seperti sekarang ini.

















    DAFTAR ISTILAH

       1.      Boot: Suatu proses meletakkan kernel ke dalam memory.
       2.      Kernel: Suatu program ini dari Sistem Operasi.
       3.      Shell: Bertugas membaca input dari pengguna.
       4.      Driver: Perangkat lunak yang digunakan untuk berinteraksi dan mengontrol hardware internal             maupun eksternal.
       5.      Memory: Pusat kegiatan dari sebuah computer.
       6.      CPU: otak dari computer.
       7.      Sistem Operasi: suatu perangkat lunak yang menghubungkan antara user dengan perangkat keras. System Operasi yang paling banyak digunakan saat ini adalah: Windows, Unix, Linux dan MacOS.
       8.      RAM: Random Access Memory, Suatu media penyimpanan hasil proses yang dibaca dan tulisnya secara random. Data pada media ini akan hilang apabila daya tidak tidak dialirkan padanya.
       9.      ROM: Read Only Memory, suatu media khusus yang digunakan untuk menyimpan firmware yang hanya bisa ditulis oleh produsen perangkat.
       10.  Cache: File sementara hasil pemrosesan yang tersimpan di memori.
       11.  Floppy Disk: suatu media penyimpanan yang bentuknya pipih, data yang mampu ditampung tidak lebih dari 50MB.
      12.  Harddisk: Media penyimpanan yang berguna untuk menyimpan data-data user maupun Sistem Operasi.
      13.  Compiler: Suatu software yang berguna untuk memproses suatu kode program menjadi file executable.
       14.  Stub: Potongan kecil yang mengindikasikan bagaimana me-load library jika routine tidak tersedia saat itu.
        15.  Queue: antrian proses dari dan menuju ke lokasi pemrosesan.
        16.  Node: Self-Referential Object: Objek yang merepresentasikan dirinya sendiri.
       17.  PCB: Printed Circuit Board, suatu papan yang digunakan untuk meletakkan komponen perangkat keras. Misalkan RAM, ROM, Processor.
        18.  Unix: Salah satu jenis Sistem Operasi selain Windows dan MacOS. OS ini open-source.
       19.  I/O: Input/Output, suatu media masukkan atau keluaran pada computer. Contoh input: keyboard, mouse. Contoh output: printer, monitor.
      20.  GUI/CLI: Graphical User Interface/Command Line Interface, adalah bentuk tampilan Sistem Operasi atau program yang masih umum digunakan saat ini. Contoh GUI: Sistem Operasi saat ini. Contoh CLI: DOS, CMD, Terminal pada Linux, Unix dan MacOS.
















    DAFTAR PUSTAKA